12 Ragam Permainan Tradisional Jawa Timur, Nomor 6 Sering Dijumpai

9 Ragam Permainan Tradisional Jawa Timur, Nomor 6 Sering Dijumpai!

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Tidak hanya terlihat dari bahasa, makanan, pakaian adat, dan keseniannya, tetapi juga dari berbagai permainan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu daerah yang memiliki banyak permainan tradisional adalah Jawa Timur. Beberapa permainan bahkan masih dikenal hingga sekarang, meskipun sudah tidak sesering dahulu dimainkan oleh anak-anak.

Ragam permainan tradisional Jawa Timur umumnya menggunakan peralatan sederhana dan memanfaatkan ruang di sekitar rumah, halaman, maupun lapangan. Menariknya, banyak permainan tersebut melibatkan aktivitas fisik, strategi, interaksi sosial, hingga kerja sama antarpemain.

Lalu, apa saja permainan tradisional yang dikenal dan dimainkan masyarakat Jawa Timur?

Ragam Permainan Tradisional Jawa Timur

1. Cublak-cublak Suweng

Sumber : TraditionalGames.com

Permainan tradisional jawa timur yang pertama adalah cublak-cublek suweng. Permainan asal Jawa Timur ini menjadi permainan yang cukup digemari anak-anak dan sering dimainkan misalnya saat di sekolah atau di rumah bersama teman mainnya. Permainan tradisional cublak-cublak suweng merupakan permainan yang dimainkan oleh 3-5 anak dengan satu buah biji-bijian atau krikil yang bisa digenggam. 

Permainan ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga sederhana, biasanya dimainkan oleh anak-anak dalam kelompok.

Berikut lirik dari lagu cublak cublak suweng yang biasa dinyanyikan.

Cublak-cublak suweng

Suwenge ting gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak Empong lera-lere

Sapa ngguyu ndhelikake

Sir, sir pong dhele kopong

Sir, sir pong dhele kopong

Cublak-cublak suweng merupakan permainan tradisional Jawa timur yang dimainkan dengan bernyanyi sambil menebak keberadaan koin atau benda kecil di antara tangan teman-teman. Permainan ini melatih kecermatan, konsentrasi, serta kekompakan dalam kelompok.

Selain memberi hiburan, cublak-cublak suweng mengajarkan anak pentingnya kerja sama dan kesabaran. Namun kini, permainan ini jarang dimainkan karena anak-anak lebih sering terpaku pada layar gadget.

Playground modern bisa menghadirkan pengalaman serupa lewat panel interaktif dan permainan sensorik, yang melatih konsentrasi dan interaksi sosial dalam suasana menyenangkan.

2. Permainan Tradisional Nekeran

Sumber: canva.com

Nekeran adalah salah satu  ragam permainan tradisional khas Jawa Timur. Istilah Nekeran dari permainan ini adalah permainan gundu. Pemenang permainan nekeran bisa dilihat dari siapa yang paling banyak memiliki kelereng.

Untuk memainkannya sangat murah, butiran gundu saling dilemparkan. Masing-masing beradu ketangkasan melempar kelereng, hingga pundi-pundi kelereng keluar dari garis.

Mereka yang menghasilkan banyak kelereng atau neker adalah pemenangnya. Permainan nekeran masih menjadi favorit anak laki-laki di Jawa Timur.

Anak-anak berlomba menggelindingkan kelereng ke target atau menjatuhkan kelereng lawan dari lingkaran. Permainan ini melatih ketelitian, strategi, serta koordinasi mata dan tangan.

Sayangnya, tanah lapang untuk bermain nekeran kini makin jarang, membuat permainan ini sulit ditemui.

Playground bisa memberikan fungsi serupa melalui wahana yang melatih fokus, refleks, dan ketepatan, dengan lingkungan yang lebih aman bagi anak.

3. Kasti atau Gebukan Batu

Kasti atau Gedebukan Batu Salah Satu Ragam Permainan Tradisional Jawa Timur
Source: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Kasti atau gemukan batu, ragam permainan tradisional khas Jawa Timur, sangat menyenangkan dan mirip dengan olahraga softball atau baseball. Ini adalah permainan yang dimainkan oleh dua tim menggunakan bola tenis untuk menyerang lawan dan tumpukan batu yang harus disusun. Tim yang berhasil menyusun batu dengan cepat tanpa terkena serangan bola adalah pemenangnya.

Di awal permainan, diputuskan melalui suit siapa yang akan menjadi penjaga dan tim mana yang akan dikejar. Tim penjaga harus segera menangkap bola setelah tumpukan batu dijatuhkan oleh tim yang dikejar. Jika tim penjaga berhasil mengenai lawan dengan bola, maka anggota tim yang terkena bola itu akan menjadi penjaga tumpukan batu selanjutnya.

Permainan ini melatih kecepatan, kerja sama, dan strategi tim. Kini, kasti jarang dimainkan karena keterbatasan lahan dan perubahan gaya hidup anak.

Playground modern dengan area lapangan kecil, permainan lempar tangkap, atau rintangan tim bisa membangkitkan kembali semangat kerja sama dan sportivitas khas permainan kasti.

4. Jamuran dari Jawa Timur

Jamuran Ragam Permainan Tradisional Jawa Timur
Source: raniseptiablog.files.wordpress.com

Jamuran, permainan dengan nama yang unik dari Jawa Timur, biasanya dimainkan oleh tujuh sampai sembilan orang. Dalam permainan ini, satu orang bertindak sebagai pancer atau pusat, sementara pemain lainnya berpegangan tangan dan membentuk lingkaran di sekitar pancer sambil menyanyi dan bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti irama lagu jamuran.

Jamuran permainan yang dimainkan dengan lagu “Jamuran… jamuran…” sambil membentuk lingkaran. Saat lagu berhenti, anak yang jadi “pemimpin” akan memberi instruksi yang harus dilakukan semua pemain.

Permainan ini melatih kreativitas, kepatuhan terhadap aturan, dan keceriaan bersama. Namun, permainan seperti jamuran semakin jarang ditemui di lingkungan perkotaan.

Playground modern bisa menghadirkan interaksi serupa melalui permainan tematik dan area kolaboratif yang mengajarkan kepatuhan aturan sambil tetap menyenangkan.

5. Gedrik atau Engklek

Gambar permainan tradisional Gedrik
Source: i.ytimg.com

Permainan tradisional Jawa Timur Kali ini kita membahas sebuah permainan yang melibatkan melompat-lompat di atas kotak-kotak yang telah digambar sebelumnya. Engklek, atau dikenal dalam bahasa Jawa, adalah permainan tradisional yang melibatkan lompatan di atas area datar dengan gambar kotak-kotak di tanah. Pemain harus melompat dari satu kotak ke kotak lainnya dengan satu kaki. Engklek umumnya dimainkan oleh dua hingga lima anak perempuan dan seringkali dilakukan di halaman rumah.

Permainan ini melatih keseimbangan, fokus, dan koordinasi tubuh. Namun, di era digital, anak-anak lebih sering asyik dengan gim daring daripada melompati kotak engklek.

Playground dengan jalur hopscotch interaktif atau lantai berpola bisa menjadi alternatif yang menjaga nilai keseimbangan dan ketangkasan khas engklek.

6. Lompat Karet

Gambar permainan tradisional Lompat Karet
Source: blue.kumparan.com

Dalam permainan tradisional ini, Minasan akan menguji kemampuan mereka untuk melompati tali yang telah diatur tingginya. Ragam permainan tradisional ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga berfungsi sebagai bentuk olahraga. Tali yang digunakan terbuat dari gabungan karet gelang yang mudah ditemukan di sekitar. Permainan ini dapat dimainkan secara individu atau berkelompok. Saat bermain sendiri, biasanya tali diikatkan pada tiang atau objek lain untuk melompatinya. Dalam permainan kelompok, biasanya melibatkan setidaknya tiga anak, dengan dua anak memegang kedua ujung tali, satu di kiri dan satu lagi di kanan, sementara yang lain bergiliran melompati tali. Tinggi tali diatur secara bertahap, dari yang terendah hingga yang tertinggi.

Lompat karet merupakan permainan populer dengan tali karet yang dirangkai panjang. Anak-anak melompat dari level rendah hingga tinggi, melatih kelincahan, keseimbangan, serta daya tahan fisik.

Tak heran jika permainan ini masih sering dijumpai di Jawa Timur, karena selain sederhana, juga bisa dimainkan banyak anak sekaligus. Meski begitu, persaingan dengan gadget membuat lompat karet mulai kehilangan peminat.

Playground modern dengan trampolin atau permainan lompat bisa menghadirkan semangat serupa dalam bentuk yang lebih aman, inovatif, dan menarik perhatian anak-anak masa kini.

7. Patil Lele

Sumber: theasianparent.com

Permainan ini memerlukan kewaspadaan karena ada kemungkinan lemparan batang kayu bisa mengenai tubuh Minasan. Namun, permainan ini tetap menjadi favorit di kalangan anak-anak dulu. Patil lele dimainkan dengan dua batang kayu, satu panjang dan satu pendek. Pemain dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penjaga dan pengukit. Batang kayu pendek diletakkan di sebuah lubang dan kemudian dilemparkan sejauh mungkin menggunakan batang kayu yang panjang.

Patil lele dimainkan dengan dua tongkat kayu, satu panjang dan satu pendek. Pemain memukul tongkat kecil agar melayang, lalu memukulnya lagi sejauh mungkin. Permainan ini melatih ketepatan, kekuatan, dan keberanian.

Namun, karena adanya risiko benturan dan keterbatasan lahan, permainan ini semakin jarang dimainkan.

Playground dengan peralatan panjat, keseimbangan, atau permainan koordinasi bisa menghadirkan aktivitas motorik mirip patil lele dalam bentuk yang lebih aman.

8. Karapan Sapi 

Gambar permainan tradisional Karapan Sapi
Source:detik.com

Karapan Sapi adalah sebuah tradisi balap sapi yang unik dan sangat populer di Madura, Indonesia. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertandingan, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi Madura.

Karapan sapi yang merupakan permainan sekaligus tradisi khas Madura, Jawa Timur, berupa adu kecepatan sapi menarik kereta kayu. Meskipun lebih dikenal sebagai budaya lomba, nilai kerja sama, kekuatan, dan sportivitasnya tetap melekat.

Bagi anak-anak, karapan sapi sering dijadikan permainan kecil-kecilan dengan mainan miniatur. Namun kini, ruang terbuka yang mendukung permainan tradisi ini makin jarang.

Playground tematik dengan wahana interaktif bertema hewan atau kendaraan bisa menjadi alternatif yang menyenangkan, menjaga semangat kompetisi sehat dalam dunia anak.

9. Gobak Sodor

Gobak Sodor menjadi salah satu permainan tradisional kelompok yang masih cukup dikenal masyarakat Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

Permainan biasanya dilakukan pada lapangan yang dibagi menjadi beberapa bagian menggunakan garis.

Satu kelompok bertugas menjaga garis, sedangkan kelompok lainnya berusaha melewati area tersebut tanpa tersentuh penjaga.

Permainan ini membutuhkan kecepatan, kelincahan, strategi, komunikasi, dan kerja sama antarpemain.

Tidak mengherankan apabila Gobak Sodor sering dijadikan contoh permainan tradisional yang mampu menggabungkan aktivitas fisik dengan interaksi sosial.

10. Dakon atau Congklak

Tidak semua permainan tradisional membutuhkan aktivitas fisik yang intens.

Dakon atau Congklak misalnya, lebih banyak mengandalkan strategi dan perhitungan.

Permainan dimainkan menggunakan papan yang memiliki beberapa lubang kecil dan dua lubang besar. Biji permainan kemudian dipindahkan secara bergantian sesuai aturan permainan.

Melalui aktivitas tersebut, pemain harus memperhitungkan langkah agar dapat memperoleh biji sebanyak mungkin.

Karena itu, Dakon dapat menjadi aktivitas yang mendorong anak berpikir, berhitung, serta menentukan strategi.

11. Ongsrotan

Ongsrotan merupakan salah satu permainan yang dikenal di wilayah Gresik, Jawa Timur.

Permainan menggunakan pecahan genteng atau benda sejenis yang dilempar menuju area kotak yang telah dibuat di tanah.

Untuk melakukannya dengan baik, pemain membutuhkan ketelitian dan kemampuan memperkirakan arah lemparan.

Permainan sederhana seperti ini memperlihatkan bagaimana anak-anak pada masa lalu dapat menciptakan aktivitas bermain menarik dengan menggunakan benda-benda yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

12. Delikan atau Petak Umpet

Permainan terakhir yang tidak kalah populer adalah Delikan atau Petak Umpet.

Salah seorang pemain bertugas mencari, sementara pemain lainnya berusaha menemukan tempat untuk bersembunyi.

Permainan sederhana ini dapat dilakukan di berbagai tempat, mulai dari halaman rumah hingga lingkungan bermain yang lebih luas.

Anak ditantang untuk bergerak, mengamati lingkungan, menentukan tempat bersembunyi, dan mengambil keputusan dengan cepat.

Permainan Anak Terus Berkembang Mengikuti Zaman

Zaman berubah dan pola kehidupan masyarakat juga ikut berkembang.

Jika dahulu anak dapat dengan mudah berkumpul di halaman rumah atau lapangan yang luas, saat ini kondisi lingkungan tempat tinggal anak semakin beragam.

Ada anak yang tinggal di kawasan perumahan, apartemen, pusat kota, maupun lingkungan dengan ruang terbuka yang terbatas.

Pada saat yang sama, jenis permainan anak juga terus berkembang.

Namun prinsip dasar dari aktivitas bermain sebenarnya tidak banyak berubah.

Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, memanjat, melompat, menjaga keseimbangan, berinteraksi, berimajinasi, dan bermain bersama teman sebaya.

Hal inilah yang kemudian dapat diterjemahkan ke dalam bentuk ruang bermain yang lebih sesuai dengan lingkungan masa kini.

Baca juga:

Tips Bisnis Playground

Modal dan Keuntungan Bisnis Playground

Playground Sebagai Alternatif Ruang Bermain Anak

Permainan tradisional Jawa Timur memang kaya manfaat dari motorik, kerja sama, hingga kreativitas. Namun, perubahan gaya hidup membuatnya sulit bertahan di tengah era digital. Playground hadir sebagai solusi modern yang bisa mengusung nilai serupa dalam bentuk lebih aman, menarik, dan sesuai zaman.

Playground bukan hanya tempat bermain, tetapi juga sarana edukasi dan interaksi sosial anak. Bersama Happy Play Indonesia, Anda bisa menghadirkan playground terbaik untuk rumah, sekolah, mall, hingga ruang publik. Playground yang kami sediakan aman, berkualitas, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca juga: Manfaat Bermain Playground

Ayo, jadikan playground sebagai investasi kebahagiaan anak-anak dan sekaligus sarana membangun masa depan yang lebih cerah. Klik banner dibawah konsultasikan kebutuhan playground Anda sekarang bersama kami.

Bagikan Artikel Ini: